Selasa, 19 November 2024

Bukan sebuah klarifikasi

Sadrah..

Mungkin kata itu adalah benar untuk menggambarkan segala yang kau rasa. Perlu kau ketahui memang hal itu benar adanya dan tak pernah sedetikpun aku pungkiri hal itu. Saat dipaksa untuk menyerah, menghilang, dan menerima semua hal yang tidak kau ingin. Siapa sangka kala itu akan jadi terkahir kali kita saling sapa. Saat kita terpaksa untuk tidak lagi berbicara bahkan mengungkapkan apa yg sedang dirasa. Hari itu memang begitu membuatku muak. Aku dengan segala masalahku dan beban hidupku harus lagi menanggung sesuatu yg seharusnya menjadi penyembuh luka. Semakin hari semakin sakit dan semakin memuakkan (kala itu). Dan tiba lah hari dimana aku berucap di lubuk hati dan pikiran yg dalam untuk pergi selamanya (dari mu).

Aku dan semua hal kelam, aku dan semua keburukkanku, aku dan semua masa pahitku, aku dan semua dosa besarku, aku dan semua penyesalanku. Iya, aku berusaha sekali untuk menghilangkan itu semua dengan adanya sesosok diri yang dulu aku yakini adalah kamu. Tapi tidak. Semakin hari semakin menjadi-jadi. Berapa kali aku ingin mati karena aku tak sanggup dan tak sampai hati. Aku hanya ingin bahagia walaupun salah. Tapi dengan "hal salah" pun aku hanya dapatkan hal-hal beracun yg kerap hiasi tidurku setiap malam. Aku sudah salah?? tapi kau torehkan lagi kalah dan amarah?? lalu aku harus bagaimana?? begitu lelah harus selalu bijaksana. Kau jadikan aku tersangka, kau jadikan aku terdakwa, iya memang aku pelakunya. Aku akui memang aku bukan orang yg patut dipanggil baik. Aku hanya ingin mendapatkan bahagia walau aku tau begitu fana. 

Sedikit demi sedikit rasa itu kian rubuh, bahkan reruntuhannya pun tak lagi bersisa. Iya, satu debu pun tak ada lagi disini. Kejam memang aku akui dan sudah ribuan kali mulut ini berucapkan. Aku? Kejam. Iya. Aku tidak pernah pungkiri bagaimana sulitnya aku bertahan hidup. Segala rasa, asa, harapan, massa, jiwa, aku korbankan kala itu. Saat ku jual jiwa dengan ikatan atas nama Tuhan. Demi hanya untuk bertahan. Tidakkah kau ingat betapa luka itu menghiasi seumur hidupku?? "HEI, AKU MENJUAL JIWAKU". Sedikit banyak, aku tidak lagi memiliki nyawa. Badan ini hanya ada, tidak berjiwa. Maka, menghapusmu itu tidaklah ada apa-apanya. Toh kehilangan adalah hal berat yg sudah biasa aku hirup (kala itu). Kejam? Iya, memang aku sangat kejam. Karena yg ku cari hanyalah kebahagiaan, bukanlah cacian apalagi racun (lagi dan lagi).

Harap ku adalah kesalahan ini akan merubahmu dalam menyampaikan sebuah "kata". Satu "kata" itu bisa menghancurkan dunia, pun membangkitkan yang mati. Jangan hanya rasa yg kau anggap nyata dan kau banggakan seolah dunia ini harus melihatmu baik, tapi cobalah melihat dari sisi gelap yg selalu kau anggap remeh dan tak berarti. Jikalau kau harus kelabui prinsipmu untuk bertutur baik, lakukanlah. Karena tidak setiap insan mampu terima hal yg kau anggap baik. Jikalau kau harus meredam ego dan merubah perspektifmu, lakukanlah. Karena tidak setiap manusia terbiasa dengan dirimu, seimbangilah dan geser pola pikir benar mu terhadap segalanya. Menjadi baik bukan hanya ada di kepala mu, tapi bagaimana jiwa lain menerimamu. 

Saat ini, aku sudah lalui pahitnya menghapus dirimu. Walau beberapa kali batinku mengelak dan membuat isi kepalaku dihujani caci maki dari hati. Aku sedang perbaiki hal yg dulu sudah hancur tak bersisa. Iya, diriku. Aku sedang menyusun kembali debu-debu dan jerami yg terurai burai menjadi sebuah tangga. Tangga yg dimana tidak ada lagi langkah undur, tangga yg hanya ada satu tujuan, tangga yg akan membawa sisa-sisa usia ini menjadi hal yg baik. 

Untukmu, hiduplah dengan baik. Alurmu deras, jalanmu luas, hidupmu bebas, mimpi-mimpi mu kelak akan menjadi pantas. Tiada penghalang bagimu, gapailah segalanya untukmu. Berbahagialah dengan siapapun itu, sambil menikmati secangkir kopi sore di Prague. 


:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bukan sebuah klarifikasi

Sadrah.. Mungkin kata itu adalah benar untuk menggambarkan segala yang kau rasa. Perlu kau ketahui memang hal itu benar adanya dan tak perna...